Sudah
berhari-hari saya terngiang-ngiang dengan percakapan yang terjadi antara saya
dengan teman saya. Sedikit merasa terusik tepatnya, Ia berhasil mengungkap
kenyataan atas diri saya yang sebenarnya masih berupa hal yang tak
terdefinisikan bagi saya. so, here we go.
"Aku sih belum mau nikah sebelum hati sama finansialku setled. sebelum aku punya rumah, gaji yang cukup. aku ga yakin 10 tahun kedepan, aku bakal butuh yang namanya pernikahan" ujarku ketika ia bertanya mengapa aku masih terkesan main-main dengan yang namanya hubungan. Aku sedikit bisa menangkap ekspresi 'shock' di wajahnya. bagaimana tidak, ia hanya sekitar 2 tahun lebih tua dariku, tetapi sudah mantap akan menikah akhir tahun ini. Sedangkan aku? memandang pernikahan itu suatu kebutuhan saja tidak.
"Kamu yakin? untuk saat ini mungkin kamu masih sangat enjoy sendiri, tapi 10 tahun kedepan? you'll change your mind. That's for sure, you'll be controlled by your lust" ujarnya sambil sedikit menggodaku *mbak, saya masih 19 tahun lo,masih polos (‾⌣‾)♉ *
"I don't know, i have a good self-control.., ya kan maksutnya aku mau bener-bener siap lahir batin dulu. Prepare for the worst,daripada ntar nikah, belum siap, punya anak mbelinge puool" jawabku, entah kenapa nada bicaraku terdengar serius :S
"Persiapan buat apa? buat kalo ntar ditinggal kamu tetep aman? jangan bilang kamu baru mau bersatu saat kamu sudah siap berpisah? jangan bilang kamu kalau memulai hubungan langsung mikirin perpisahan? selalu cari aman ya?" DERR! pertanyaan itu benar-benar mengena bagiku. Membuatku menjadi bertanya-tanya pada diriku sendiri,aku ulangi lagi pertanyaannya di kepalaku "jangan bilang kamu baru mau bersatu saat kamu sudah siap berpisah?" apa memang iya? setakut itukah aku terhadap hubungan? "engga gitu juga kali mbak" ujarku singkat dan menyudahi topik percakapan ini.
Jujur, saya banyak menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri hancurnya pernikahan yang dibangun oleh 2 orang yang tadinya merupakan sepasang kekasih yang begitu saling mencintai. Saya tidak akan bilang perpisahan adalah hal yang salah, karena pasti banyak alasan yang melatarbelakangi. Saya juga tidak akan bilang kalau bersatu meski yang dirasa hanya kepedihan adalah suatu hal yang benar. tapi, semua itu pasti terjadi kan? perpisahan.
Penjelasan singkat yang diberikan mama padaku dulu, "orang hidup berpasangan itu cuma punya dua pilihan. Pisah hidup atau pisah mati. Semua harus siap" .Saya akui, saya memegang kata-kata mama saya sebagai prinsip. Bahwa kita, siapapun yang menjadi bagian dari kita' pasti akan berpisah pada suatu saat, Collapse-nya keuangan mama setelah memutuskan untuk hidup sendiri juga menjadi pelajaran bagi saya , bahwa yang namanya perpisahan itu datang dengan cara yang tidak terduga. Apalagi ketika nanti sudah berumah tangga. Semua harus dipersiapkan, pekerjaan, tabungan, rumah, dll.
Mungkin saya hanya terlalu takut ketika perpisahan itu datang, saya seperti mama saya. Belum siap berpisah. keadaan menjadi lebih sulit dan menyakitkan karenanya. Ironisnya, perasaan takut itu datang bahkan pada saat hubungan saya baru akan dimulai. Membuat saya selalu melangkah mundur ketika 'berpasangan' tampaknya sudah menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa dengan seseorang. Apalagi dengan kecenderungan saya yang lebih nyaman dekat dengan lelaki yang lebih tua. Saya akan berusia 20 di akhir tahun nanti, jika saya dekat dengan seseorang, usianya rata-rata sudah berada di usia-harus-serius-berhubungan-untuk-menikah . Sementara saya? langsung terlintas di pikiran, belum lulus,kerjaan, gaji, rumah
belum ada. yah, singkatnya belum siap. entah belum siap untuk berhubungan, atau kembali lagi. belum siap jika harus berpisah. Jangankan berpikir membawa hubungan tersebut ke jenjang lebih serius, untuk memulainya saja saya dipenuhi rasa ragu dan takut.
"Aku sih belum mau nikah sebelum hati sama finansialku setled. sebelum aku punya rumah, gaji yang cukup. aku ga yakin 10 tahun kedepan, aku bakal butuh yang namanya pernikahan" ujarku ketika ia bertanya mengapa aku masih terkesan main-main dengan yang namanya hubungan. Aku sedikit bisa menangkap ekspresi 'shock' di wajahnya. bagaimana tidak, ia hanya sekitar 2 tahun lebih tua dariku, tetapi sudah mantap akan menikah akhir tahun ini. Sedangkan aku? memandang pernikahan itu suatu kebutuhan saja tidak.
"Kamu yakin? untuk saat ini mungkin kamu masih sangat enjoy sendiri, tapi 10 tahun kedepan? you'll change your mind. That's for sure, you'll be controlled by your lust" ujarnya sambil sedikit menggodaku *mbak, saya masih 19 tahun lo,masih polos (‾⌣‾)♉ *
"I don't know, i have a good self-control.., ya kan maksutnya aku mau bener-bener siap lahir batin dulu. Prepare for the worst,daripada ntar nikah, belum siap, punya anak mbelinge puool" jawabku, entah kenapa nada bicaraku terdengar serius :S
"Persiapan buat apa? buat kalo ntar ditinggal kamu tetep aman? jangan bilang kamu baru mau bersatu saat kamu sudah siap berpisah? jangan bilang kamu kalau memulai hubungan langsung mikirin perpisahan? selalu cari aman ya?" DERR! pertanyaan itu benar-benar mengena bagiku. Membuatku menjadi bertanya-tanya pada diriku sendiri,aku ulangi lagi pertanyaannya di kepalaku "jangan bilang kamu baru mau bersatu saat kamu sudah siap berpisah?" apa memang iya? setakut itukah aku terhadap hubungan? "engga gitu juga kali mbak" ujarku singkat dan menyudahi topik percakapan ini.
Jujur, saya banyak menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri hancurnya pernikahan yang dibangun oleh 2 orang yang tadinya merupakan sepasang kekasih yang begitu saling mencintai. Saya tidak akan bilang perpisahan adalah hal yang salah, karena pasti banyak alasan yang melatarbelakangi. Saya juga tidak akan bilang kalau bersatu meski yang dirasa hanya kepedihan adalah suatu hal yang benar. tapi, semua itu pasti terjadi kan? perpisahan.
Penjelasan singkat yang diberikan mama padaku dulu, "orang hidup berpasangan itu cuma punya dua pilihan. Pisah hidup atau pisah mati. Semua harus siap" .Saya akui, saya memegang kata-kata mama saya sebagai prinsip. Bahwa kita, siapapun yang menjadi bagian dari kita' pasti akan berpisah pada suatu saat, Collapse-nya keuangan mama setelah memutuskan untuk hidup sendiri juga menjadi pelajaran bagi saya , bahwa yang namanya perpisahan itu datang dengan cara yang tidak terduga. Apalagi ketika nanti sudah berumah tangga. Semua harus dipersiapkan, pekerjaan, tabungan, rumah, dll.
Mungkin saya hanya terlalu takut ketika perpisahan itu datang, saya seperti mama saya. Belum siap berpisah. keadaan menjadi lebih sulit dan menyakitkan karenanya. Ironisnya, perasaan takut itu datang bahkan pada saat hubungan saya baru akan dimulai. Membuat saya selalu melangkah mundur ketika 'berpasangan' tampaknya sudah menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa dengan seseorang. Apalagi dengan kecenderungan saya yang lebih nyaman dekat dengan lelaki yang lebih tua. Saya akan berusia 20 di akhir tahun nanti, jika saya dekat dengan seseorang, usianya rata-rata sudah berada di usia-harus-serius-berhubungan-untuk-menikah . Sementara saya? langsung terlintas di pikiran, belum lulus,kerjaan, gaji, rumah
belum ada. yah, singkatnya belum siap. entah belum siap untuk berhubungan, atau kembali lagi. belum siap jika harus berpisah. Jangankan berpikir membawa hubungan tersebut ke jenjang lebih serius, untuk memulainya saja saya dipenuhi rasa ragu dan takut.
Karena
itulah, ketika teman saya mengajukan pertanyaan retoris, apakah saya selalu
'cari aman' dalam hubungan hingga baru mau menjalin hubungan hanya ketika saya
akan baik-baik saja ketika berpisah, saya merasa sangat terusik. Sebelum ini,
saya sendiri tak tahu pasti apa yang menyebabkan saya lebih sering mundur
ketika baru akan menjalin hubungan. Setelah saya pikir-pikir, sedikit
flashback, ah, mungkin memang itu alasannya.
Saya masih belum tahu bagaimana caranya merubah jalan pikiran ini. maybe in 10
years henceforth i'll change my mind? i don't know. Nobody knows :).
![]() |
| hold my hand as if we'll never fall apart, dear :) |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar