Hey, taukah ia disini ada orang yang merindukannya setengah mati, terjebak dalam dimensi nostalgi, sendiri, dan tak bisa lari? Aku seseorang yang hanya punya kesempatan memandangnya selama 2 detik dan harus merindukannya dalam tahun-tahun penuh elegi . Ironis, aku ini kuat, aku mampu melompat setinggi yang kumau, tapi aku selalu jatuh, selalu terkulai saat bayangnya mulai hadir. Dan sialnya, itu terjadi sekarang, kemarin, hari sebelum kemarin dan sebelumnya. Semoga esok pagi semua lebih baik.
Entah kenapa rasanya aku mulai terbiasa dengan kenangan, terbiasa memeluk bayangan, terbiasa mengucap namamu dalam setiap angan-angan. Semua seakan menjadi suatu rutinitas menyakitkan yang seperti menjadi candu, tidak bisa tidak. Harusnya jika kuturuti logika, ini bagaikan belenggu menakutkan yang erat mendera, tapi yang kurasa sakit ini indah. Indah jika suatu saat nanti bisa kuceritakan padanya J
Tapi bagaimana jika disuatu tempat disana, ia telah menemukan bidadarinya? Telah menemukan tujuan cintanya? Bagaimana jika ia telah temukan anginnya, sosok yang menyelimuti dan memberinya kehidupan, yang mampu menyentuhnya lebih dulu sebelum aku? Barangkali tak apa. Aku tak takut sepi dan bukan berarti aku akan mati. Karena aku yakin, aku ini tinta, dan dia itu lembaran kertas. Berdua kami akan bisa menulis sebuah cerita panjang mengenai ini semua. Mungkin aku tak begitu pandai merangkainya menjadi apa yang mereka sebut sastra , namun aku orang yang tak sanggup banyak bicara, tulisan kata-kata yang sampaikan semuanya. Hingga nanti aku mati, kuberikan cerita itu ke Tuhan, memohon pada-Nya agar kami bisa dipersatukan di surga. Dan kan kubisikan "maaf.."
![]() |
| seharusnya kita bisa membuat surga milik kita sendiri :) |

